Showing posts with label Budaya Bangsa. Show all posts
Showing posts with label Budaya Bangsa. Show all posts

Tuesday

Ada Gendang Dari Kulit Manusia di Papua!

Desa adat Yobeh di Danau Sentani, Kab Jayapura, Papua, punya benda pusaka yang menakjubkan. Mereka memiliki Tifa, gendang khas Papua, berumur 200 tahun yang memakai kulit manusia asli.

Tifa berusia 200 tahun (Sastri/detikTravel)


Kunjungan saya ke Desa Yobeh dilakukan di sela-sela Festival Danau Sentani 2012, Kamis (22/6/2012) lalu. Setelah mengambil beberapa gambar, saya mendapati seluruh rombongan mengerubungi Kepala Suku. Rupanya ia sedang menjelaskan sesuatu, tentang Tifa berumur ratusan tahun.

"Tifa dibuat menggunakan kulit manusia. Umurnya dua ratus tahun. Dulu ada dua, Tifa laki-laki sama perempuan. Yang perempuan dibawa ke Belanda, sekarang dimuseumkan di sana. Di sini, tinggal Tifa laki-laki," jelas sang Kepala Suku, tampak berusaha terus menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan pengunjung.


Tifa adalah alat musik khas Papua yang berbentuk gendang. Mendengar penjelasan sang Kepala Suku, seluruh rombongan penasaran. Kami lalu dibolehkan masuk ke dalam sebuah rumah tempat Tifa itu disimpan. Sebelum masuk ruangan, kami wajib mengucap salam. Permisi...

Ada dua Tifa yang menggantung di langit-langit. Warnanya hitam, mungkin termakan usia. Sejepret-dua jepret kamera dan saya pun keluar untuk ganti giliran dengan pengunjung lainnya. Di pintu rumah, Kepala Suku angkat bicara.

"Tifa ini sebagai pertanda kalau ada warga yang mau meninggal. Yang rambutnya sudah memutih, yang sudah ada bercak-bercak di wajahnya. Malam hari, Tifa akan bunyi sendiri. Pertanda besoknya dia akan meninggal."

Astaga! Ini adalah hal paling mistis yang saya temui sepanjang FDS 2012. Tapi rupanya Kepala Suku belum selesai cerita.



Tarian selamat datang (Sastri/detikTravel)


"Kalau Tifa ini bunyi, yang di Belanda sana juga bunyi. Bersamaan," kata dia.

Setelah tercekat beberapa detik, dua warga lokal yang berdiri tak jauh dari situ mengalihkan perhatian saya. Mereka membawa tombak panjang, memegangnya dengan hati-hati dan mengelusnya dengan cermat. Itu adalah tombak keramat.

"Ini juga tombak laki-laki dan tombak perempuan. Digunakan untuk perang. Tidak bisa digunakan sembarang orang, harus yang sudah tua atau punya kedudukan," tutur salah seorang warga Yobeh.

Seperti pondasi bangunan, tombak itu juga terbuat dari kayu besi. Tombak laki-laki sekitar 3 meter tingginya, sementara yang perempuan sekitar 3,5 meter. Motif khas Papua terukir di tiap bagian tombak itu, dari pangkal sampai ujung. Sama seperti Tifa keramat itu, tombak ini juga usianya tak tanggung-tanggung.

"Lima belas keturunan. Sekarang digunakan untuk acara pelantikan," tambahnya.

Saya bertanya, apa nama tombak itu? Mereka tersenyum dan menjawab, kalau nama tombaknya tak boleh disebut. Terlalu sakral.

Tak sampai satu jam kami singgah di Desa Yobeh. Masih dengan senyum mengembang, warga setempat mengantar kepergian kami ke dermaga. Melambaikan tangan lama sekali hingga kapal tak terlihat.

Di dalam kapal, pemandu kami, Andre bicara kepada segelintir orang termasuk saya. Kata-katanya tersendat, namun bisa ditangkap oleh siapa pun yang kebetulan sedang berada di dekatnya.

"Saya dekat sekali dengan Kepala Suku-nya. Menginap di rumahnya beberapa hari. Selama bertahun-tahun saya nggak tahu sama sekali tentang batu, tombak, apalagi Tifa. Mereka sembunyikan itu rapat-rapat," tuturnya.

Lanjut Andre, ini adalah kali pertama Desa Yobeh membuka diri untuk wisatawan. Dari 24 desa adat di Danau Sentani, tak lebih dari 5 desa yang membuka wajah untuk pariwisata. Tampaknya masyarakat Desa Yobeh sudah mulai mengetahui dampak positif pariwisata, terutama untuk aspek ekonomi dan kesejahteraan.

"Banyak sekali desa di sini (Danau Sentani-red) yang minta didatangi wisatawan. Tapi nggak semuanya mungkin, soalnya jarak pulaunya ada yang jauh sekali dekat hilir," tambah Andre.

Saya pun terkesima. Sulit membayangkan kalau hampir seluruh desa adat di sini kini berlomba-lomba untuk dikenal turis, membuka pintu lebar-lebar terhadap dunia pariwisata. Mereka mengungkapkan apa yang telah disimpan beratus-ratus tahun lamanya.



Sumber : Detik Travel

Monday

Gunung Padang, Buktikan Ras Indonesia Unggul

“Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini." 

Pengambilan sampel di Gunung Padang (VIVAnews/ Muhamad Solihin)
Danny Hilman Natawijaya, Ketua Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang, mengatakan pembuktian situs megalitik Gunung Padang menegaskan bangsa Indonesia bukan ras atau bangsa kacangan. Situs ini membuktikan adanya kemampuan teknologi hingga sosial budaya nenek moyang yang jauh lebih modern dari catatan sejarah ilmu pengatahuan dan peradaban yang diyakini selama ini.

“Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini. Seperti Hitler yang bangga akan ras arya atau para yahudi yang bangga akan garis keturunannya. Gunung Padang membuktikan kita juga keturunan ras yang sangat luar biasa,” kata geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.



Menurut Danny, semangat itulah yang memotivasi para peneliti untuk terus melakukan riset dan pembuktian di Gunung Padang. Semangat ini memompa mereka untuk terus mencari kehebatan nenek moyang di nusantara yang berhasil membuat struktur modern di eranya, yang diperkirakan pada era prasejarah.

Selama ini, kata Danny, catatan sejarah peradaban dunia selalu melihat pada peradaban Mesir yang diperkirakan ada sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi atau peradaban sungai Indus yang tumbuh pada 3.000 tahun sebelum Masehi. “Dari hasil penelitian hingga hari ini, kami masih yakin peradaban Gunung Padang adalah yang tertua dan lolos dari catatan sejarah,” katanya.

Sementara, Erick Rizky menjelaskan kemungkinan Gunung Padang tidak sempat tertulis dalam catatan sejarah karena sistem sosial masyarakat Gunung Padang saat itu menggunakan budaya lisan sendiri, tidak menggunakan budaya lisan seperti yang tercatat saat ini. "Asumsi ini yang menyebabkan peradaban Gunung Padang sepertinya luput dari catatan sejarah peradaban dunia. Kami yang akan terus berupaya memasukkan temuan ini sebagai catatan peradaban dunia,” katanya.

Maret lalu, Tim Bencana Katastropik Purba yang membawahi tim penelitian telah melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hasil carbon dating memperlihatkan hasil yang mengejutkan. Menurut salah satu anggota tim, Boedianto Ontowirjo, carbon dating menunjukkan Gunung Padang lebih tua dari piramida Giza di Mesir.

Dari sampel hasil pengeboran yang diambil dari teras 5 di titik bor 2 dengan kedalaman 8 hingga 10 meter, hasilnya menunjukkan 11.060 thn +/- 140 tahun Before Present. "Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM," ucap Boedianto, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, 4 Maret 2012.


Sumber :  VIVAnews

Pendekar Tanpa Kaki Bikin Kagum Pejabat Cimahi

SIDANG Paripurna Istimewa menyambut Hari Jadi Ke-11 Kota Cimahi baru saja usai. Para pejabat unsur Musyawarah Pimpinan Daerah pun baru saja keluar dari ruang paripurna dan baru saja menginjakkan kaki di pendopo kantor dewan, Kamis (21/6) siang.



Namun puluhan mata para pejabat tertegun sejenak ke arah lapangan kantor dewan yang saat itu sedang panas-panasnya disapa terik matahari. Bukan karena panas mentari yang membuat mereka tertegun. Mereka melihat ada pemandangan mencolok yang saat itu sedang terjadi di tengah lapangan. Pemandangan itu adalah berupa atraksi yang dilakukan seseorang yang tidak pernah dilihat selama ini. Atraksi itu berupa perpaduan gerakan-gerakan pencak silat yang diselingi kemampuan mempergunakan senjata tajam berupa golok.

Yang cukup membuat banyak pasang mata keheranan adalah sosok pendemo atraksi itu tidak memiliki dua kaki sama sekali. Fisik orang yang sedang melakukan aksi gerakan pencak silat di tengah lapangan yang sangat panas dibakar sengatan matahari itu hanya tubuh kepala hingga pinggang saja. Kedua kakinya tidak ada.

Namun hebatnya, orang yang belakangan diketahui bernama Ade Anas itu mampu menunjukkan jurus-jurus silat secara mumpuni dengan gerakan-gerakan sempurna, seolah-olah dia memiliki kedua kaki yang menapak di tanah.

Pendekar dari perguruan Citra Domas itu mampu melakukan gerakan berputar, berbalik, menangkis, dan memukul dengan baik dan tangkas. Bahkan boleh dibilang sempurna, seolah dia sedang berhadapan dengan musuh sesungguhnya di depan matanya.

Tepuk tangan riuh pun menggema. Karena gerakan-gerakan silatnya sempurna dengan kondisi fisik tubuh seadanya, banyak pejabat bersimpati memberikan "kadeudeuh" untuk Ade.

Setelah melakukan atraksi jurus-jurus silat, Ade pun mendapat banyak ucapan selamat, tidak hanya dari para hadirin yang berada di pinggir lapangan, tapi juga dari para pejabat, termasuk Wali Kota Itoc Tochija.

Kepada Tribun, yang menghampirinya setelah ia menggelar atraksi, Ade Anas mengaku tidak ada rahasia khusus darinya untuk melakukan jurus-jurus silat yang sempurna. "Latihan yang tekun dan kerja keras," katanya membuka pembicaraan.

Menurut Ade, ketiadaan kedua kakinya tidak lantas membuat dirinya menjadi seorang yang patah semangat, apalagi putus asa. Sebaliknya, hal itu menjadi pemicu bagi dirinya untuk bisa berbuat yang terbaik yang bisa berguna bagi diri dan orang-orang di sekitarnya.

Adapun pilihan Ade memperdalam pencak silat adalah karena kecintaannya kepada budaya bangsa sendiri, selain tentu saja sebagai ilmu bela diri. Ade, yang kini berusia 35, mengaku baru mengenal pencak silat pada tahun 1990. Saat itu, anak kelima dari enam bersaudara pasangan Didi Heryadi dan Aah (almarhumah) ini menimba ilmu silat di  Perguruan Silat Putera Gumelar di Cimareme, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Pada 1997, Ade menimba ilmu di Perguruan Citra Domas hingga akhirnya dia mengenal ilmu-ilmu yang lebih sulit seperti belajar alat (mempergunakan senjata tajam) hingga belajar tenaga dalam seperti kuat terhadap api, kebal senjata tajam, hingga mampu melakukan atraksi seperti debus, yakni memasukkan paku ke hidung dalam jumlah banyak.

Karena sudah begitu banyak ilmu dan jurus-jurus yang dimilikinya, warga RT 01/05 Kampung Rancabogo, Desa Cimareme Ngamprah, itu sempat mengenyam pengalaman manis, yakni mewakili daerahnya ke Jambore Pencak Silat Nasional di Cikeas pada 2009.

"Itu pengalaman paling berkesan saya selama ini, bisa mewakili daerah ke tingkat nasional. Saya bangga bahwa dengan kondisi tubuh seadanya, saya mampu membaktikan diri untuk tanah kelahiran saya dan orang-orang yang selama ini sudah berjasa membuat saya seperti ini," katanya.


Sumber : Tribun

Tuesday

Tari Tor Tor - Warisan Budaya Nusantara (Indonesia)

Tari tor-tor dan magondang diklaim Malaysia, kita kebakaran jenggot. Tentu saja, karena ini asli warisan budaya Indonesia. Yuk, mengenal tor-tor lebih akrab agar tahu kalau warisan nenek moyang dari tanah Batak ini sangat jauh dari tradisi Malaysia.


Tari tor-tor/.tobaphotographerclub.com

 
Tari tor-tor adalah tarian khas suku Batak, Sumatera Utara. Tepatnya Mandailing. Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.
 
Tari tor-tor dulunya digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu di bersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut. Tor-tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang batak.

Tarian tor-tor juga di pakai pada pesta pernikahan, bagi suku mandailing tarin tor-tor merupakan tarian yang sangat di jaga sampai sekarang. Banyak orang yang mengenal tarian tor-tor karena tarian tor-tor selalu di gunakan oleh beberapa sanggar tari untuk menjadi salah satu tarian yang di kembangkan dan di jaga.

Setiap orang mandailing pasti bisa menari tarian tor-tor, karena tarian ini selalu di pakai dalam berbagai acara di sumatera utara. Tarian ini juga sangat di sukai oleh orang yang bukan suku batak. Tarian di Indonesia mempunyai cirri khas masing-masing daerah yang menjadi suatu tarian yang di banggakan.

Tarian tor-tor juga tidak hanya suku mandailing yang menari tor-tor, melainkan suku selai mandailing juga dapat menari tarian tor-tor dengan baik.

Tarian ini sangat terkenal sehingga sellalu di pakai pada acara-acara. Pakaian yang digunakan pada tarian tor-tor adalah pakaian ciri khas batak dengan memakai ulos.

Pakaian yang dikenakan saat menari tarian tor-tor sangat lah bagus karena pakaian pada tarian tor-tor mempunyai cirri khas tersendiri. Maka tarian inilah yang harus kita junjung tinggi dan di lestarikan sampai kapan pun.


Ragam Tor-tor

Jenis tarian tor-tor banyak ragamnya, yakni:

Tor tor Pangurason (tari pembersihan).
Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.

Tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan).
Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).

Tor tor Tunggal Panaluan
Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.



Tor-Tor pada jaman sekarang untuk orang Batak tidak lagi hanya diasumsikan dengan dunia roh, tetapi menjadi sebuah seni karena Tor-Tor menjadi perangkat budaya dalam setiap kegiatan adat orang Batak.
 

Monday

Eskavasi Situs Perkampungan Zaman Mataram Kuno

Situs Perkampungan Zaman Mataram Kuno Kembali Digali
Situs Liyangan
Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan eskavasi tahap kedua pada temuan Situs Perkampungan Zaman Mataram Kuno Abad ke X di Dusun Liangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.

Pada eskavasi tahap kedua ini diturunkan sebanyak sembilan personel yang tergabung dalam Tim Penelitian Situs Liangan. Eskavasi sudah dilakukan sejak sepekan terakhir. Dalam pekerjaannya, tim dibantu warga sekitar untuk melakukan penggalian, serta membersihkan situs.


"Setidaknya ada lima titik yang kami gali dalam eskavasi tahap kedua ini. Dua titik di antaranya dengan menelusuri pagar candi ke arah barat sampai 80 meter karena ini belum ketemu ujungnya. Kalau yang ke arah timur sudah ketemu ujungnya," terang Ketua Tim Penelitian Situs Liangan, Sugeng Riyanto, Sabtu (16/6).


Selanjutnya, titik ketiga penggalian, katanya, dengan menelusuri tangga halaman candi dimana ada dua saluran air. Kemudian pihaknya mencari di balik jalan, lalu menemukan tangga dan selasar lagi. Hanya saja pihaknya belum mengetahui selasar tersebut akan sampai mana.



"Untuk titik ke empat, kita telusuri struktur boldes atau batu-batu bulat. Kemungkinan itu pagar atau talut. Sedangkan titik galian kelima, kita telusuri pagar luar,"katanya.


Situs tersebut ditemukan pertama kali oleh para penambang galian C akhir 2008 lalu. Pada 2011, Balai Arkeologi melakukan eskavasi tahap pertama terhadap situs tersebut.


Pada penggalian kedua ini, ia memprediksi adanya temuan baru karena dimungkinkan ada lebih dari satu candi. Indikasinya, di seberang sungai juga ditemukan arca-arca candi lagi. (TS/OL-9)


Sumber :  Media Indonesia

Polemik Tari Tor-Tor



 Kisah Tari Tor Tor yang 'Menggiurkan' Malaysia                                                           
Sudah dikenal sejak zaman nenek moyang suku Batak. 

Sejumlah penari sedang menarikan tarian Tor Tor pada pembukaan Pesta Danau Toba 2011 di Parapat Kab Simalungun, Sumut, Selasa (27/12/2011)
Tarian Tor Tor  (sumber: ANTARA/Septianda Perdana)
Negeri Jiran Malaysia kembali menuai kontroversi. Seperti yang telah ramai diberitakan, pemerintah Maaysia akan segera mematenkan tari Tor Tor sebagai bagian dari budaya Malaysia. Padahal tarian yang sebenarnya bernama Manortor tersebut sudah dikenal masyarakat dunia sebagai tarian khas daerah Sumatera Utara.

Tarian budaya suku Batak tersebut seringkali muncul di televisi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Hampir setiap turis asing yang telah mengunjungi Sumatera Utara, kerap disambut dengan tarian Tor Tor. Apalagi jika ada acara-acara resmi yang dilakukan pemerintah untuk menyambut para wisatawan asing tersebut.



Bahkan dalam pelajaran sekolah di Indonesia, tari Tor Tor sudah diperkenalkan sebagai ciri khas masyarakat Sumatera Utara, khususnya suku Batak.


 Sejarah Tari Tor Tor                                                                                                  
 

Nuansa seni tari Tor Tor atau Manortor tersebut memang memiliki gerakan yang unik yakni garakan tangan dan tubuh yang kaku, gerakan kaki berjinjit. Gerakan tersebut diiringi dengan iringan musik (Marhondang) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak dan beberapa alat musik khas lainnya.


Jenis tarian Tor Tor berbeda-beda. Ada yang dinamakan Tor Tor Pangurason (tari pembersihan), Tor Tor Sipitu Cawan (tari tujuh cawan) dan Tor Tor Tunggal Panaluan. Jika pada Tor Tor Pangurason digelar saat pesta besar untuk pembersihan tempat dan lokasi agar terbebas dari mara bahaya, Tor Tor Sipitu Cawan dilakukan untuk mengukuhkan seorang raja. Sementara itu Tor Tor Tunggal Panaluan digelar jika suatu desa dilanda musibah. Biasanya tari Tor Tor ini dilakukan para dukun untuk mencari solusi masalah tersebut.


Dari jenis tari dan maksudnya, Tari Tor Tor selalu berhubungan dengan roh. Menurut sejarahnya, tari Tor Tor memang dilakukan untuk memanggil para roh agar masuk ke dalam patung-patung batu yang merupakan simbol dari para leluhur. Karena itu gerakan Tor Tor adalah kaku karena dipercaya para roh melakukan tarian itu juga.


Namun saat ini, Tari Tor Tor sudah tidak lagi diasumsikan lekat dengan dunia roh. Tari Tor Tor menjadi sebuah budaya dan seni yang dikenal masyarakat dunia sebagai budaya tanah air.


 Keindahan gerakan tari penuh makna                                                                         


Paar penari Tor Tor tidak sembarangan melakukan gerakannya. Sejumlah pantangan tidak boleh dilakukan sang penari, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas. Bila itu dilakukan, berarti si penari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu 'perdukunan' atau bela diri atau ilmu tenaga dalam lainnya.


Secara garis besar, terdapat empat gerakan dalam tarian Tor Tor yang sering disebut urdot. Pertama adalah Pangurdot, gerakan yang dilakukan kaki, tumit sampai bahu. Lalu yang kedua adalah Pangeal, merupakan gerakan yang dilakukan pinggang, tulang punggung sampai bahu/sasap. Selanjutnya yang ketiga adalah Pendenggal, yakni gerakan tangan, telapak tangan dan jari-jarinya. Sementara itu gerakan keempat adalah Siangkupna yakni menggerakan bagian leher. Ulos atau kain khas suku Batak harus digunakan bagi para penari Tor Tor.


Menariknya, keindahan tari Tor Tor akan tampak jika si penarinya memiliki perasaan terhadap tujuan dari tariannya itu. Misalnya si penari melakukan tarian untuk orangtua yang meninggal. Akan tampak tarian tersebut memiliki 'roh' dan dapat menggetarkan siapa saja yang melihatnya.


Tarian Tor Tor juga akan tampak indah, jika si penarinya benar-benar tulus memberikan ucapan selamat datang dan rasa hormat kepada para tamu yang datang dalam sebuah perhelatan atau penyambutan wisatawan.
Penulis: Berbagai sumber/Teddy Kurniawan


 Kemendikbud Cek Kebenaran Malaysia Klaim Tor Tor                                                  


Jika pernyataan Malaysia merupakan klaim sepihak jelas pemerintah RI akan bersikap. 

Sekelompok pemain mementaskan musik Gordang Sambilan di anjungan Pemkab Mandailing Natal Pekan Raya Sumatra Utara (PRSU) 2011 di Medan, Sumut, beberapa waktu lalu. Gordang Sambilan dalam bahasa Mandailing adalah  sembilan buah gendang dengan ukuran besar merupakan musik tradisional adat sakral suku Batak Mandailing yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib memanggil roh nenek moyang untuk memberi pertolongan. FOTO ANTARA/Septianda Perdana/ss/pd/11
FOTO ANTARA/Septianda Perdana/ss/pd/11 (sumber: Antara)
Juru bicara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ibnu Hamad, mengatakan akan mengkonfimasi pemberitaan soal Malaysia mengklaim Tari Tor Tor dan alat musik Gondang Sambilan yang merupakan budaya khas masyarakat Mandailing di Sumatra Utara, sebagai warisan nasional Malaysia.

"Kami akan cek ulang informasi tersebut. Seandainya betul, saya harap pihak Malaysia tidak melupakan kasus-kasus klaim budaya yang sudah terjadi sebelumnya dan menimbulkan protes dari masyarakat Indonesia. Ini menjadi kontraproduktif dalam hubungan Indonesia dan Malaysia," kata Ibnu, ketika dihubungi Minggu (17/6).


Kantor berita Malaysia, Bernama, memberitakan pada Jumat lalu, Menteri Budaya, Komunikasi dan Informasi Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim, mengatakan Tari Tor Tor dan Gordang Sembilan akan diakui dalam Undang-Undang Warisan Nasional 2005.


Hal itu dikatakan Rais ketika meresmikan peluncuran Komunitas Mandailing di Kuala Lumpur dan mengatakan mempromosikan seni dan budaya Mandailing adalah penting karena dapat memamerkan asal muasalnya, selain juga mengembangkan persatuan dengan komunitas-komunitas lain dan sejalan dengan konsep 1 Malaysia.


"Sebaiknya Malaysia memberi klarifikasi apa tujuan yang sebebarnya dengan mendaftarkan tarian Tor Tor ke dalam Warisan Nasional mereka. Jika tujuannya merupakan pengakuan pemilikan sepihak, jelas tidak dapat kita terima," kata Ibnu lebih lanjut.


Tarian Tor Tor, tambah Ibnu, adalah sudah jelas merupakan bagian dari masyarakat Batak Mandailing, yang menjadikan tarian tersebut untuk menghormati leluhur mereka.


Adapun sejarah serta perkembangan tarian tersebut adalah bagian dari sejarah dan kehidupan suku adat Batak Mandailing.





 Sosiolog: Jangan Sampai Isu Tari Tor Tor Jadi Bola Liar                                              


Masalah klaim budaya ini cukup kompleks karena masyarakat Malaysia dan Indonesia memang sudah bercampur baur. 

Sejumlah penari sedang menarikan tarian Tor Tor pada pembukaan Pesta Danau Toba 2011 di Parapat Kab Simalungun, Sumut, Selasa (27/12/2011)
Tari Tor Tor
Sosiolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Musni Umar, mengatakan Malaysia sebaiknya berkomunikasi dengan Indonesia sebelum memasukkan Tarian Tor Tor dan alat musik Gondang Sambilan (Sembilan Gendang Besar), dalam Undang-Undang Warisan Nasional-nya.

Hal itu untuk menghindari salah paham antara Malaysia dan Indonesia.


"Masalah ini sangat kompleks, karena sejarahnya masyarakat Melayu ada di Malaysia dan Indonesia yang satu rumpun. Budayanya sudah tercampur baur," ujar Musni, yang merupakan anggota dari Kumpulan Tokoh Terkemuka atau Eminent Persons Group Indonesia-Malaysia, ketika dihubungi, Minggu (17/6).


Musni mengatakan komunikasi dengan Indonesia menjadi perlu untuk menghindari isu ini dapat menimbulkan lagi protes dan antipati terhadap Malaysia terutama di kalangan muda Indonesia.



Sebelum mendaftarkan dua jenis budaya Mandailing itu dalam daftar warisan nasionalnya, Musni mengatakan diperjelas dulu bagaimana posisi Indonesia terkait Tari Tor Tor dan Gondang Sambilan.


"Jangan sampai hal itu disalahartikan sebagai upaya mengklaim budaya Indonesia. Kita tidak ingin isu ini menjadi bola liar yang bisa dieksploitasi pihak-pihak tertentu di Indonesia yang bisa mempengaruhi hubungan Indonesia dan Malaysia," ujar Musni.


Mandailing adalah salah satu etnis masyarakat yang ada di Sumatra Utara. Menurut situs web
Mandailing.org, terjadi perantauan besar-besaran oleh masyarakat Mandailing ke pesisir barat Malaysia pada beberapa dekade pertama abad ke 19 akibat Perang Paderi.

Hingga kini keturunan orang-orang Mandailing masih banyak berada di wilayah negara bagian Negeri Sembilan, Perak, Pahang, dan Selangor di Malaysia.


Kantor berita Malaysia,
Bernama, memberitakan pada Jumat bahwa Menteri Budaya, Komunikasi dan Informasi Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim, mengatakan Tari Tor Tor dan Gondang Sembilan akan diakui dalam Undang-Undang Warisan Nasional 2005.

Hal itu dikatakan Rais ketika meresmikan peluncuran Komunitas Mandailing di Kuala Lumpur dan mengatakan siap mempromosikan seni dan budaya Mandailing.


Pasalnya, itu hal penting karena dapat memamerkan asal muasalnya, selain juga mengembangkan persatuan dengan komunitas-komunitas lain dan sejalan dengan konsep 1 Malaysia.




 Budayawan : Sejarah Tari Tor Tor ke Malaysia                                                            

Tari Tor Tor yang sedang ramai dibicarakan telah disebut-sebut diklaim milik Malaysia
Tari Tor Tor
Saling menghormati dan mengakui di mana budaya itu lahir, berkembang dan dilestarikan tanpa mengklaim kepemilikannya.

Budayawan dan penyair Sitok Srengenge mengatakan bahwa kebudayaan bukanlah suatu barang mati yang statis dan tidak selalu terkotak-kotak dalam wilayah politik tertentu.


Sitok mengatakan hal itu menyusul berita yang dilansir kantor berita Malaysia, Bernama, Malaysia akan mencatat budaya masyarakat Mandailing, Tari Tor Tor dan alat musik Gordang Sembilan, dalam Undang-Undang Warisan Nasional 2005, yang dinyatakan oleh Menteri Budaya, Komunikasi dan Informasi Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim setelah menghadiri peluncuran Komunitas Mandailing di Kuala Lumpur pada hari Jumat (15/6).


Rais mengatakan bahwa mempromosikan seni dan budaya Mandailing adalah penting karena dapat memamerkan asal muasalnya, selain juga mengembangkan persatuan dengan komunitas-komunitas lain dan sejalan dengan konsep 1 Malaysia.


“Budaya bisa berkembang atau mati. Budaya bisa berkembang tidak hanya di satu tempat tapi bisa ke wilayah politik yang lain. Tari Tor Tor, bisa jadi sudah ada sebagai suatu budaya sebelum ada suatu wilayah politik yang bernama Indonesia,” ujar Sitok, sambil menambahkan bahwa masyarakat Mandailing dari Sumatra Utara, seperti berbagai kelompok masyarakat lain, juga telah menyebar ke wilayah lain selain wilayah aslinya.


Menurut situs web Mandailing.org, masyarakat Mandailing merantau dalam gelombang besar ke pesisir barat Malaysia pada beberapa dekade pertama abad ke 19 akibat Perang Paderi, saat Indonesia belum lahir dan masih bernama Hindia Belanda yang merupakan wilayah jajahan Belanda. Hingga kini, keturunan orang-orang Mandailing masih banyak berada di wilayah negara bagian Negeri Sembilan, Perak, Pahang dan Selangor di Malaysia.


Perantauan masyarakat Mandailing ke Malaysia, tambah Sitok, dengan sendirinya membawa dan menumbuhkan budaya masyarakat Mandailing di sana, seperti halnya migrasi orang Jawa ke Suriname 122 tahun yang lalu sehingga budaya dan bahasa Jawa sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat di negara Amerika Selatan tersebut.


“Apakah masyarakat Mandailing yang ada di Malaysia tidak berhak atas budaya mereka?” ujar Sitok, sambil menambahkan bahwa dengan adanya budaya yang sudah menyebar dari satu wilayah politik ke wilayah politik lainnya, yang penting untuk tetap dijaga adalah saling menghormati dan mengakui di mana budaya itu lahir, berkembang dan dilestarikan tanpa mengklaim kepemilikannya.


“Budaya itu hidup dimana masyarakatnya memang menghidupkannya,” ujar Sitok.
Penulis: Ismira Lutfia/Teddy Kurniawan


Sumber : Berita Satu

Saturday

Asal-Muasal Batik di Nusantara

Asal-Muasal Batik di Nusantara
Pengunjung mencoba membuat batik
Tahun 2009, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) mengeluarkan keputusan menggembirakan tentang status salah satu aset budaya kita. ‘Kain ‘berlukis’ khas Indonesia, batik, ditetapkan sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada 2 Oktober.

Menjadi bagian dari kekayaan seni dan budaya yang antik dan artistik menjadikan batik begitu penting bagi Indonesia. Ia diperjuangkan dari klaim sebuah negeri Melayu lain dan hari penetapannya sebagai ‘harta’ milik Indonesia ditetapkan sebagai Hari Batik.


Sejarah batik yang panjang menjadi bukti keantikan fashion etnik yang satu ini. J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua (Iwan Tirta dkk. [1996] dalam Batik: a Play of Lights and Shades Volume 1'). Sebagian referensi menduga batik berasal dari bangsa Sumeria dan berkembang di Jawa setelah dibawa pada abad 14 oleh para pedagang India, negara yang kala itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam Parsi, Persia.

Meski kata ‘batik’ secara etimologi diyakini berasal dari akronim dua kata dalam bahasa Jawa—amba yang berarti “lebar, luas, kain” dan matik yang berarti “membuat titik-titik”—kehadiran batik di Jawa tidak tercatat. Namun demikian, sejumlah prasasti dan arca mencatatnya dengan cara yang lain.

Detil ukiran kain menyerupai pola batik pada arca Prajnaparamita (arca dewi kebijaksanaan Buddhis) yang diperkirakan berasal dari abad 13 M dan ditemukan di Malang, Jawa Timur. Detil pakaian sang dewi menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa saat ini.

Sejarawan berkebangsaan Belanda G.P. Rouffaer dalam Iwan Tirta dkk (1996) menyebutkan, pola gringsing telah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Ia menyimpulkan bahwa pola tersebut hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Referensi lain mengenai perkembangan batik ada pada legenda dalam literatur Melayu abad 17, Sulalatus Salatin. Dalam literatur tersebut, dikisahkan bahwa Sultan Mahmud memerintahkan Laksamana Hang Nadim agar berlayar ke India untuk mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan motif 40 jenis bunga pada setiap lembarnya (Dewan Sastera Volume 31 Issues 1-6 [2001], dikutip oleh Wikipedia). Kain serasah tersebut ditafsirkan sebagai batik.

Sedangkan dalam literatur Eropa, teknik batik pertama kali diceritakan dalam History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles, yang pernah menjadi gubernur Inggris di Jawa ketika Napoleon menduduki Belanda. Dikisahkan, saat mengunjungi Indonesia pada 1873, seorang saudagar Belanda bernama Van Rijekevorsel memberinya selembar batik.

Raffles lalu menyerahkan kain tersebut ke museum etnik di Rotterdam dan dipamerkan di Exposition Universelle Paris. Pada masa itulah, setelah berhasil memukau publik dan seniman, batik mulai memasuki masa keemasannya (Nadia Nava [1991] dalam Il Batik, dikutip Wikipedia).

Pun demikian Cina. Pedagang asal Negeri Tirai Bambu itu mencatat tentang batik Nusantara sejak lama. National Museum of Singapore (2007) dalam “Batik: Creating an Identity” mengisahkan, pada awal abad ke-14 M seorang pedagang dari Dinasti Yuan bernama Wang Dayuan melakukan dua perjalanan laut ke wilayah Asia Tenggara.

Dayuan lalu menulis buku berjudul Dao Yi Zhi Lue di tempat yang kini bernama Sri Lanka. Buku itu berisi catatan cuaca, barang-barang produksi, orang-orang, dan adat istiadat di tempat-tempat yang dikunjunginya. Dalam catatan perjalanannya itu ia menulis bahwa orang-orang di Jawa timur membuat kain bermotif yang bagus dan tidak luntur.

Inilah Asal-Muasal Batik di Nusantara (2)
Kain batik
Di Jawa, selain arca Prajnaparamita, sejumlah arca lain melengkapi catatan rekam jejak batik. Catatan dalam laman batiksolo.asia menyebutkan, pada patung emas Syiwa di Gemuruh Wonosobo (dibuat pada abad 9 M), terdapat motif dasar lereng. Sedangkan pakaian patung Ganesha di Candi Banon (abad 9 M) di dekat Candi Borobudur dihiasi oleh motif ceplok.

Motif batik juga ditemukan dalam motif pada patung Padmipani di Jawa tengah (diperkirakan dibuat sekitar abad 8-10 M). Motif liris melekat pada patung Manjusri di Ngemplak, Semongan, Samarang (abad 10 M).

Dalam beberapa literatur, sejarah perbatikan di Indonesia sering dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit (1293-1500 M) dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Penemuan arca dalam Candi Ngrimbi dekat Jombang yang menggambarkan sosok Raden Wijaya menegaskan hal itu. Raja pertama Majapahit yang memerintah pada 1294-1309 M itu mengenakan kain batik bermotif kawung.

Karena itulah, kesenian batik diyakini telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan diwariskan secara turun temurun. Selanjutnya, wilayah Majapahit yang luas membuat batik dikenal semakin luas di Nusantara.

Namun menurut KRT Hardjonagoro, pakar terkemuka batik Indonesia, meski bermula pada masa Majapahit, sejarah dan perkembangan batik di Nusantara mulai terekam sejak masa Kerajaan Mataram Islam (berdiri abad ke-17) di Jawa Tengah. Di antara rekaman sejarah batik itu, yang dapat ditelusuri dari Keraton, adalah keberadaan motif porong rusak dan semen rama.

Awalnya, ia digunakan sebagai hiasan pada daun lontar yang berisi naskah atau tulisan, agar tampak lebih menarik. Lalu seiring perkembangan interaksi masyarakat dengan bangsa asing, perlahan dikenal media batik pada kain. Sejak itu, batik mulai digunakan sebagai corak kain yang berkembang sebagai busana tradisional khusus di kalangan ningrat keraton.

Penjelasan dalam referensi-referensi tentang batik menunjukkan bahwa pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram Islam, kemudian pada masa-masa Kasuhunan Surakarta di Solo dan Kasultanan Yogyakarta. Jadi, seni batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang pada masa raja-raja berikutnya hingga menyebar ke berbagai pelosok Indonesia, terutama Jawa.

Beberapa contoh kain sejenis batik yang berasal dari luar Jawa adalah sarita dari Toraja, tritik (Palembang, Banjarmasin, dan Bali), kain jumputan dan kain pelangi (Jawa, Bali, Lombok, Palembang, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ada pula kain sasirangan dari daerah Banjar, Kalimantan Selatan, serta kain cinde atau patola (Gujarat India) yang masuk ke Nusantara sebagai barang dagangan atau untuk ditukarkan dengan hasil bumi (Komaruddin Hidayat dan Putut Widjanarko [2008] dalam Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa). Batik menyebar luas pada akhir abad 18 hingga awal abad 19. Kesenian batik di sepanjang masa itu hanya menghasilkan kain-kain batik tulis, hingga kemudian batik cap (menggunakan pencetak dari kayu bermotif sebagai pengganti canting) mulai dikenal setelah Perang Dunia pertama.


Sumber : REPUBLIKA

Monday

Sejarah Terciptanya Lambang Burung Garuda

Garuda merupakan lambang Negara Indonesia, hampir semua orang tahu itu. Namun hanya sebagian orang saja yang mengetahui siapa penemunya dan bagaimana kisah hingga menjadi lambang kebanggaan negara ini.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.Dia lah Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.


Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin.

Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.


Sumber : jelajahunik

Sunday

Sejarah Keraton Kartasura

Kasunanan Kartasura adalah sebuah kerajaan di Pulau Jawa yang berdiri pada tahun 1680 dan berakhir tahun 1742, sebagai kelanjutan dari Kesultanan Mataram. Riwayat kerajaan yang usianya relatif singkat ini cenderung diwarnai oleh perang saudara memperebutkan takhta. Lokasi pusat Kasunanan Kartasura saat ini diperkirakan terdapat di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Keraton Kartasura
 

Amangkurat I adalah raja terakhir Kesultanan Mataram yang memerintah dengan sewenang-wenang sejak tahun 1645. Ia juga terlibat perselisihan dengan putranya sendiri yang menjabat sebagai Adipati Anom. Pada tahun 1670 Adipati Anom menggunakan Trunajaya dari Madura sebagai alat untuk melakukan kudeta terhadap ayahnya itu.

Quote:Adipati Anom artinya juga raja muda. Gelar ini lazim dipakai zaman Mataram Islam dan sesudahnya. Lembaga Putra Mahkota sering juga disebut Pare Anom (sedangkan lembaga raja yang berkuasa disebut Pare Sepuh). Misalnya, pada masa pemerintahan Amangkurat I, yang menjabat Adipati Anom adalah Raden Mas Rahmat, yang kemudian naik takhta menjadi Amangkurat II.

Pemberontakan Trunajaya yang semakin besar membuatnya sulit dikendalikan lagi. Puncaknya, pada tanggal 2 Juli 1677 istana Mataram yang terletak di Plered diserbu kaum pemberontak. Adipati Anom memilih kabur bersama Amangkurat I ke arah barat.


Amangkurat I meninggal dalam perjalanan. Ia sempat berwasiat agar Adipati Anom meminta bantuan VOC untuk menumpas Trunajaya dan merebut kembali tahta

Trunojoyo yang setelah kemenangannya bergelar Panembahan Maduretno, kemudian mendirikan pemerintahannya sendiri. Saat itu hampir seluruh wilayah pesisir Jawa sudah jatuh ke tangan Trunajaya, meskipun wilayah pedalaman masih banyak yang setia kepada Mataram. VOC sendiri pernah mencoba menawarkan perdamaian, dan meminta Trunojoyo agar datang secara pribadi ke benteng VOC di Danareja. Trunojoyo menolak tawaran tersebut.
 

Pada April 1677, Speelman bersama pasukan VOC berangkat untuk menyerang Surabaya dan berhasil menguasainya. Speelman yang memimpin pasukan gabungan berkekuatan sekitar 1.500 orang berhasil terus mendesak Trunojoyo. Benteng Trunojoyo sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC. Akhirnya Trunojoyo dapat dikepung, dan menyerah di lereng Gunung Kelud pada tanggal 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker. Trunojoyo kemudian diserahkan kepada Amangkurat II yang berada di Payak, Bantul. Pada 2 Januari 1680, Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo.

Berdirinya Kartasura

Sesuai wasiat ayahnya, Adipati Anom pun bekerja sama dengan VOC untuk menumpas Trunajaya. Ia menandatangani Perjanjian Jepara 1677 dengan VOC, yang berisi VOC akan membantu Adipati Anom melawan Trunojoyo, dan sebagai gantinya, VOC berhak memonopoli perdagangan di Pantai Utara Jawa. Atas bantuan VOC, Adipati Anom diangkat sebagai raja tanpa takhta bergelar Amangkurat II. Trunajaya akhirnya berhasil ditangkap dan dihukum mati awal tahun 1680.

Istana lama Mataram saat itu telah dikuasai oleh Pangeran Puger, putra Amangkurat I lainnya, yang ditugasi sang ayah untuk merebutnya dari tangan Trunajaya. Amangkurat II terpaksa membangun istana baru di Hutan Wanakarta, yang diberi nama Kartasura. Ia mulai pindah ke istana tersebut pada bulan September 1680.

Kemudian terjadilah perang antara Kartasura melawan Mataram (Perang Suksesi I) untuk memperebutkan kekuasaan atas tanah Jawa sebagai pewaris Amangkurat I yang sah. Pada tanggal 28 November 1681 akhirnya Pangeran Puger menyerah kalah kepada Amangkurat II yang dibantu VOC. Sejak saat itu, Mataram resmi menjadi bagian dari Kartasura.

Amangkurat II yang naik takhta atas bantuan VOC, kemudian hari merasa sangat dirugikan dengan Perjanjian Jepara 1677. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk melepaskan diri dari perjanjian dengan VOC, antara lain membantu perjuangan seorang buronan bernama Untung Suropati. Amangkurat II menerima dan membantu pelarian Untung Surapati di Kartasura. Kapten Tack, Pemimpin pasukan VOC yang mengejar Untung Surapati tewas terbunuh di Kartasura. Untung Surapati diangkat sebagai saudara oleh Amangkurat II dan diberikan hadiah sebagai Bupati Pasuruhan pertama dengan gelar Wiranegara. Atas peristiwa itu, hubungan VOC dengan Amangkurat II memanas.

Kapten van Beber kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain di Batavia yang bernama Moor. Sejak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama Si Untung.


Ketika Untung berumur 20 tahun, ia dimasukkan penjara oleh Moor karena berani menikahi putrinya yang bernama Suzane. Untung kemudian menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan.

 
Sepeninggal Amangkurat II terjadi perebutan takhta antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger yang bergelar Pakubuwana I (Perang Suksesi II). Pada tahun 1705 Pakubuwana I berhasil mengusir Amangkurat III dan merebut Kartasura. Perang antara Pakubuwana I yang didukung VOC melawan Amangkurat III yang didukung keluarga Untung Suropati di Jawa Timur baru berakhir tahun 1708. Penobatan Puger membuktikan perjanjian antara Ki Gede Pemanahan dan Ki Juru Martani mengenai pergantian tujuh keturunan Pemanahan ke keturunan Ki Juru Martani.

Sepeninggal Pakubuwana I terjadi lagi perebutan takhta Kartasura di antara putra, yaitu Amangkurat IV yang dibantu VOC melawan Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Dipanegara Madiun (Perang Suksesi III). Perang saudara ini berakhir tahun 1723 yang dimenangkan oleh Amangkurat IV.

Jatuhnya Kartasura

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa di Batavia yang menjalar sampai ke seluruh Jawa. Mula-mula Pakubuwana II (pengganti Amangkurat IV) mendukung mereka. Namun ketika melihat pihak VOC unggul, ia pun berbalik mendukung bangsa Belanda tersebut.


Perbuatan Pakubuwana II justru membuat kekuatan pemberontak meningkat karena banyak pejabat anti VOC yang meninggalkannya. Akhirnya pada tanggal 30 Juni 1742 para pemberontak menyerbu Kartasura besar-besaran. Pakubuwana II pun melarikan diri ke Ponorogo.
  VOC bekerja sama dengan Cakraningrat IV dari Madura dan berhasil merebut kembali Kartasura. Pada akhir tahun 1743 Pakubuwana II kembali ke Kartasura namun kondisi kota tersebut sudah hancur. Ia pun memutuskan membangun istana baru di desa Sala bernama Surakarta, yang ditempatinya sejak tahun 1745.

Babad Tanah Jawi menyebut peristiwa ini sebagai Geger Pacino. Rusaknya kraton di Kartasura, dianggap merupakan tanda hilangnya landasan kosmogonis kraton sebagai sentrum kekuasaan, sehingga perlu dib
angun kraton baru.

Mitos Akhir Abad

Masyarakat Jawa, terutama kaum bangsawan, telah terjebak pada mitos tentang runtuhnya kerajaan pada akhir abad, dan berdirinya kerajaan baru tiga tahun kemudian.


Menurut catatan para pujangga Jawa, pada tahun Saka 1400 Kerajaan Majapahit runtuh dan tahun 1403 Kesultanan Demak berdiri. Pada tahun Saka 1500 Kesultanan Demak runtuh dan tahun 1503 Kesultanan Pajang ber
diri yang kemudian dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram. Kemudian pada tahun Jawa 1600 Kesultanan Mataram runtuh dan tahun 1603 Jawa Kasunanan Kartasura berdiri.

Maka pada tahun Jawa 1700 (bertepatan dengan 1774 Masehi) terjadi kegelisahan di antara raja-raja Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, dua kerajaan bersaudara yang saling berusaha menaklukkan pada masa itu. Untuk menangkal mitos tersebut, seorang menantu Hamengkubuwana I dari Yogyakarta mengarang sebuah naskah berjudul Babad Kraton pada tahun Jawa 1703 yang isinya menyebutkan bahwa


Kartasura adalah kerajaan yang runtuh mewakili tahun 1700, sedangkan Yogyakarta adalah kerajaan yang berdiri tahun 1703. Padahal runtuhnya Kartasura dan berdirinya Yogyakarta yang sesungguhnya terpaut selisih sekitar 14 tahun.


Rupanya pihak Hamengkubuwana I berusaha untuk menegaskan bahwa Yogyakarta adalah penerus yang sah dari Kartasura, bukan Surakarta sebagaimana kenyataannya 

Sumber : Tuan Muda